Kesabaran Sangat Bisa Dilatih

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Jika pernah menonton film “Catch Me If You Can”, maka akan tahu bahwa film tersebut diangkat dari kisah nyata seorang penjahat. Namanya Frank Abagnale Jr., seorang penipu ulung yang berhasil menipu banyak orang dengan identitas palsu dan pemalsuan cek. Bayangkan, di usia remaja, ia sudah bisa menyamar menjadi pilot, dokter, bahkan pengacara tanpa latar belakang pendidikan yang sebenarnya. Ia juga berhasil melakukan penipuan cek hingga menghasilkan jutaan dolar. Tapi yang membuatnya benar-benar luar biasa bukan hanya kepintarannya menyamar, melainkan juga kesabaran dan strateginya.

Sebelum melakukan aksinya, Frank selalu mengamati dengan sangat teliti bagaimana dunia profesional itu bekerja. Ia memperhatikan cara berbicara, berpakaian, dan bertindak orang-orang di profesi yang ia tiru. Frank juga sangat pintar menahan diri. Ia tidak tergesa-gesa atau ceroboh, sebab ia tahu bahwa satu kesalahan kecil bisa membongkar penyamarannya. Bertahun-tahun, ia memakai kendali diri (self-control) yang luar biasa kuat untuk menjaga identitas palsunya tetap dipercaya banyak orang. Bagi Frank, bertahan dan mengendalikan diri adalah kunci utama agar permainannya terus berjalan.

Ada lagi yang penulis ingin perkenalkan. Bruce Reynolds merupakan salah satu tokoh kunci dalam “The Great Train Robbery”, sebuah perampokan kereta api besar-besaran yang terjadi di Inggris pada tahun 1963. Bayangkan sebuah rencana kejahatan yang begitu rapi, begitu sabar disusun, hingga mengguncang Inggris dan dunia. Bruce Reynolds dan kelompoknya melakukan sesuatu yang hampir mustahil: mereka merampok kereta Royal Mail dan membawa kabur sekitar £2,6 juta – jumlah yang setara dengan ratusan juta dolar saat ini. Tapi ini bukan aksi nekat dadakan.

Selama dua tahun penuh, mereka menyusun setiap detailnya seperti seorang maestro mengatur simfoni. Mereka mempelajari jadwal kereta dengan teliti, membuat simulasi serangan berulang kali, bahkan berlatih bagaimana cara mengalihkan jalur kereta tanpa menarik perhatian. Mereka tidak tergoda untuk menyerang lebih cepat meski peluang kecil sempat terbuka. Tidak, mereka memilih menahan diri, menunggu momen yang sempurna. Mereka bahkan sudah menyiapkan tempat persembunyian jauh-jauh hari sebelum malam bersejarah itu tiba. Semua ini menunjukkan satu hal: di balik kejahatan besar ini, ada kesabaran luar biasa, kendali diri yang kuat, dan perencanaan jangka panjang yang dijalankan dengan disiplin militer.

Dari kisah nyata tadi, kita bisa belajar satu hal penting tentang kesabaran. Kesabaran ternyata bukan cuma soal diam dan menunggu, tapi tentang kemampuan menahan dorongan untuk segera mendapatkan sesuatu sekarang demi tujuan yang lebih besar di masa depan. Baik dalam cerita Frank Abagnale Jr. yang menyamar bertahun-tahun, maupun dalam kasus perampokan kereta Royal Mail oleh Bruce Reynolds dan kelompoknya, keduanya menunjukkan konsep yang disebut delay of gratification, yaitu seni menunda kepuasan sesaat. Mereka bisa saja tergoda untuk bertindak cepat atau mengambil kesempatan kecil yang muncul, tapi mereka memilih untuk tetap fokus pada tujuan besar yang sudah direncanakan. Ini membuktikan bahwa kesabaran dan pengendalian diri bisa menjadi kekuatan luar biasa – bisa digunakan untuk hal baik, tapi juga, sayangnya, untuk hal buruk jika niatnya salah.

Secara sederhana, sabar itu berarti kemampuan untuk menahan atau mengendalikan diri. Bukan sekadar diam atau pasrah, tapi benar-benar menjaga diri dari sikap tergesa-gesa, mengeluh berlebihan, berbuat salah, atau bereaksi buruk ketika menghadapi ujian, masalah, bahkan saat mendapat kenikmatan. Sabar itu seperti rem dalam diri kita yang menjaga agar kita tetap berjalan di jalur yang benar, tidak terbawa emosi sesaat atau nafsu sesaat.

Sabar juga berarti berani menahan nafsu agar kita tetap berjuang dalam kebenaran, meskipun berat dan melelahkan. Bahkan ketika godaan datang atau jalan terasa sulit, sabar membuat kita tetap berpegang teguh pada apa yang benar, tanpa menyerah atau menyimpang. Intinya, sabar adalah kekuatan batin yang membuat kita bertahan, tetap lurus, dan tidak mudah goyah di tengah berbagai cobaan hidup.

Dari makna sabar itu sendiri, kita bisa lihat bahwa sabar bukanlah sesuatu yang netral atau kosong. Sabar membawa nilai, tergantung pada arah dan tujuan dari ketahanan yang kita lakukan. Ada sabar yang terpuji, yaitu sabar yang dilakukan untuk tetap berjuang di jalan kebenaran, bahkan ketika itu sangat berat. Namun, ada juga sabar yang tercela, yaitu sabar yang digunakan untuk mempertahankan kebatilan, kesalahan, atau bahkan kemalasan.

Jadi, sabar bukan hanya sekadar menahan diri atau tidak bertindak, tetapi lebih kepada tujuan dan arah dari ketahanan itu sendiri. Apakah kita menahan diri untuk hal yang baik atau justru untuk sesuatu yang buruk? Nilai dari kesabaran kita sangat tergantung pada tujuan dan niat di baliknya. Oleh karena itu, sabar yang sesungguhnya harus disertai dengan ilmu, kesadaran, dan orientasi yang benar, yaitu kepada Sang Maha Sempurna. Dengan demikian, kesabaran kita akan memiliki nilai yang sah di sisi agama dan menjadi kekuatan yang positif.

Namun kenapa Cemilan Otak (tulisan pendek) ini mengangkat kisah nyata para penjahat? Itu bukan tanpa alasan. Meskipun niat dan tujuan mereka jelas salah, ada satu hal yang bisa kita pelajari dari mereka: kemampuan untuk menahan diri dan bersabar demi mencapai tujuan jangka panjang. Para penjahat ini bisa menunggu bertahun-tahun, merencanakan dengan cermat, dan menahan dorongan untuk bertindak gegabah demi tujuan yang buruk. Nah, kalau mereka bisa bersabar untuk keburukan, maka ini memberi kita pelajaran besar.

Kita juga bisa menahan diri, bersabar, dan berjuang demi tujuan yang jauh lebih baik: kebahagiaan jangka panjang di akhirat. Dengan niat yang benar dan tujuan yang mulia, kesabaran kita bisa menjadi kekuatan yang membawa kita pada kebaikan, bukan keburukan. Jadi, jika mereka bisa bersabar untuk hal yang salah, kita tentu bisa lebih mudah bersabar untuk hal yang benar dan penuh berkah.

Bayangkan sejenak, jika mereka yang berada di jalan yang salah bisa menahan diri dan bersabar untuk mencapai tujuan mereka, kita yang berada di jalan yang benar tentu memiliki kekuatan yang jauh lebih besar untuk bersabar demi tujuan yang lebih mulia. Kesabaran kita bukan hanya tentang menahan diri, tetapi juga tentang mengarahkan diri kita ke hal yang lebih baik, lebih abadi, dan penuh berkah – kebahagiaan di akhirat.

Setiap ujian dan cobaan yang kita hadapi adalah kesempatan untuk menguatkan kesabaran kita. Dengan niat yang tulus dan keyakinan yang kuat, kita bisa menjadikan sabar sebagai jembatan menuju kebahagiaan sejati. Jadi, jangan pernah merasa kesulitan dalam bersabar, karena setiap langkah sabar kita adalah langkah menuju kebahagiaan yang lebih besar di masa depan.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *