Oleh: Syahril Syam *)
Penelitian menunjukkan bahwa kesedihan dan kebahagiaan kita berkaitan dengan molekul emosi yang bernama seretonin. Serotonin adalah neurotransmiter yang ditemukan di otak dan dalam sistem pencernaan, dan seringkali dikaitkan dengan suasana hati yang stabil dan perasaan kesejahteraan. Tingkat serotonin yang seimbang diyakini berperan penting dalam mengatur suasana hati dan emosi.
Ketika tingkat serotonin rendah, seseorang mungkin mengalami gejala depresi, kecemasan, atau gangguan suasana hati lainnya. Sebaliknya, tingkat serotonin yang sehat dapat membantu menjaga suasana hati yang baik dan memberikan perasaan relaksasi dan kenyamanan.
Karena itu sedih dan bahagia memiliki keterkaitan molekul emosi yang sama, yaitu seretonin. Sedih merupakan kontras dari Kebahagiaan. Tanpa sedih, kita tidak akan sepenuhnya menghargai momen kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidup kita. Sedih memberikan kontras yang memungkinkan kita untuk merasakan kebahagiaan dengan lebih dalam. Lantas bagaimana hubungan kesedihan dan kebahagiaan konstruktif (bukan destruktif) dengan kesehatan?
Setiap penyakit pada dasarnya memiliki komponen psikosomatik. Bernie Siegel – seorang dokter yang memadukan kesadaran diri, pengungkapan emosi destruktif, dan pengobatan barat – mengungkapkan bahwa berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun dalam menangani pasien, sesungguhnya hampir semua penyakit bersifat psikosomatis. Psikosomatis: psychosomatic; psyche dan somato; berasal dari bahasa Yunani, “psyche” berarti jiwa atau pikiran dan “somato” berarti tubuh. Jadi, psikosomatis berarti suatu kondisi dimana pikiran memengaruhi tubuh. Keadaan mental memengaruhi organ-organ tubuh melalui hubungan tiga komponen yang saling terkait: saraf, hormonal, dan imunologis. Istilah ini pertama kali disebut oleh Helen Flanders Dunbar (1902 – 1959) di awal tahun 1940-an.
Setiap molekul emosi memiliki fungsi berbeda dalam sistem kekebalan. Dopamin dan serotonin bertindak dalam interaksi sistem saraf dan kekebalan tubuh. Kortisol dan oksitosin juga mengatur sistem yang sama. Karena sedih dan bahagia memiliki dua sisi, yaitu destruktif dan konstruktif, maka kebanyakan orang cenderung berada pada dua sisi ekstrim. Kalau bukan sedih yang membuat hati terasa terpukul atau bahagia yang terlalu berlebihan hingga merasa sombong dan bangga. Dan begitu juga sebaliknya, bahagia yang terlalu berlebihan hingga menyombongkan diri, seringkali jatuh ke kekecewaan yang akhirnya tenggelam di sisi ekstrim sedih yang menyakitkan.
Sedih sesungguhnya merupakan respons alamiah terhadap berbagai situasi kehidupan. Secara alami kita akan merespons peristiwa-peristiwa yang mengecewakan, menyakitkan, atau kehilangan dalam hidup. Sedih yang konstruktif adalah sedih yang kemudian menjadikan peristiwa-peristiwa itu sebagai momentum untuk introspeksi dan pertumbuhan diri. Memungkinkan kita untuk mempertimbangkan nilai-nilai kita, mengidentifikasi kebutuhan atau keinginan yang tidak terpenuhi, dan membuat perubahan yang mungkin diperlukan dalam hidup kita. Dan ketika kita berhasil melalui semua rintangan dan tantangan hidup, maka melahirkan kebahagiaan.
Di sisi lain, bahagia merupakan perasaan kegembiraan, kepuasan, dan kesejahteraan yang berkelanjutan. Hanya saja ketika terlalu berlebihan, cenderung membuat seseorang merasa bahwa ia layak mendapatkan kebahagiaan karena lahir dari kekuatan dirinya semata. Ada perasaan sombong yang tanpa disadarinya terselip di relung hatinya. Keadaan ini sesungguhnya bersifat destruktif, dimana ketika menghadapi suatu hal yang berada di luar kontrol dirinya, maka akan jatuh pada kekecewaan mendalam yang berujung pada kesedihan yang bersifat destruktif.
Oleh sebab itu, karena kesedihan dan kebahagiaan berkaitan dengan molekul emosi (seretonin), maka penting bagi kita untuk tetap berada di jalur moderat, yaitu ketika sedih maka sedih konstruktif; dan ketika bahagia maka bahagia konstruktif. Keadaan moderat inilah yang membuat kita berada dalam kondisi prima dan sehat, dikarenakan kadar seretonin yang seimbang.
Kita mesti waspada agar tidak terjatuh pada dua sisi ekstrim: sedih yang berlebihan atau bahagia yang berlebihan. Karena kekurangan seretonin bisa menyebabkan depresi, kecemasan, dan gangguan tidur. Begitu juga sebakiknya, kelebihan seretonin juga bisa mengakibatkan Sindrom Serotonin, yang gejalanya berupa kebingungan, agitasi, kecemasan, keringat berlebihan, gemetar, tekanan darah tinggi, detak jantung cepat, bahkan kejang atau koma dalam kasus yang parah.
@pakarpemberdayaandiri











