Oleh: Syahril Syam *)
Otak manusia secara alami lebih waspada terhadap ancaman dibandingkan hal-hal positif. Ini adalah mekanisme bertahan hidup yang berkembang sejak zaman nenek moyang kita. Dalam konteks berita, ketika judul menggunakan kata-kata seperti “kesedihan”, “krisis”, “bahaya”, atau “kehancuran”, orang lebih cenderung mengklik karena merasa perlu mengetahui ancaman yang mungkin mereka hadapi. Sebaliknya, kata-kata seperti “kebahagiaan”, “kedamaian”, atau “keberhasilan” tidak memicu reaksi emosional yang sama kuatnya, sehingga kurang menarik perhatian. Itulah mengapa berita negatif lebih sering viral dan lebih banyak dibaca, karena secara biologis, otak kita lebih tertarik pada informasi yang tampaknya penting untuk kelangsungan hidup.
Sebuah studi terhadap 105.000 judul berita dengan total 370 juta tampilan mengungkap pola yang menarik: semakin positif sebuah judul, semakin kecil kemungkinan orang untuk mengkliknya. Setiap kata positif yang ditambahkan dalam judul justru menurunkan jumlah klik sebesar 1%.
Sebaliknya, kata-kata negatif justru meningkatkan daya tarik berita, dimana setiap kata bernada negatif membuat orang 2,3% lebih mungkin untuk mengklik. Ini menunjukkan bahwa berita dengan nuansa pesimis, penuh ketakutan, atau kontroversial lebih menarik perhatian dibandingkan berita yang membawa optimisme atau kabar baik.
Penelitian dari Stanford University menunjukkan bahwa cerita yang memicu emosi, 22 kali lebih mudah diingat dibandingkan fakta biasa. Itulah mengapa berita dengan gambar dan kata-kata yang memicu ketakutan atau kemarahan lebih mungkin menjadi viral.
Namun, yang jarang disadari oleh banyak orang adalah bahwa paparan berita negatif justru dapat meningkatkan kecemasan. Penelitian menunjukkan bahwa hanya dalam 14 menit, membaca atau menonton berita – terutama yang bernada negatif – sudah cukup untuk memicu rasa cemas. Di era media sosial, kita seringkali tanpa sadar disuguhi berita buruk yang tiba-tiba muncul di timeline, membuat seseorang lebih rentan terhadap stres tanpa disadarinya.
Kecemasan dan ketakutan tidak hanya dipicu oleh situasi di sekitar kita, tetapi juga berkaitan erat dengan kepribadian. Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan kepribadian neurotik, yaitu mereka yang lebih sensitif terhadap stres dan ancaman – lebih rentan merasa cemas dan takut saat menghadapi berita negatif atau situasi yang tidak pasti.
Yang mengejutkan, faktor ini ternyata memiliki pengaruh yang lebih kuat dibandingkan pandangan politik atau latar belakang ekonomi dalam menentukan bagaimana seseorang merespons isu-isu sosial dan politik. Dengan kata lain, seseorang bisa lebih mudah dipengaruhi oleh berita yang menakutkan bukan karena ideologi tertentu, tetapi karena sifat dasar mereka yang lebih peka terhadap ancaman.
Fenomena ini dikenal sebagai “sleeper effect”, yaitu dampak tersembunyi dari kecemasan yang perlahan-lahan membentuk cara seseorang berpikir dan mengambil keputusan, termasuk dalam politik. Ketakutan yang terus-menerus dipicu oleh berita dan media sosial bisa mengarah pada keputusan yang didorong oleh emosi, bukan logika – dan dalam skala besar, hal ini dapat memengaruhi hasil pemilu, kebijakan publik, bahkan arah suatu negara.
Masalahnya, paparan berita buruk yang terus-menerus bukan hanya memengaruhi cara kita memilih pemimpin atau kebijakan yang kita dukung, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan mental kita. Survei yang dilakukan oleh American Psychological Association (APA) pada 2017 menemukan fakta mengejutkan: meskipun 95% orang Amerika rutin mengikuti berita, lebih dari setengahnya merasa berita justru menjadi sumber stres. Ini berarti, alih-alih merasa lebih terinformasi dan tenang, banyak orang justru semakin cemas setiap kali membaca berita.
Yang lebih mengkhawatirkan, berita negatif seringkali muncul tanpa kita sadari saat kita menggulir media sosial – fenomena yang disebut incidental exposure. Tiba-tiba, di antara foto liburan teman atau video lucu, muncul judul berita yang penuh ketakutan, mengejutkan kita dan memicu reaksi emosional spontan.
Bagi pembuat konten dan media, ini adalah strategi yang menguntungkan – semakin emosional respons kita, semakin besar kemungkinan kita mengklik berita tersebut, yang berarti lebih banyak pendapatan dari iklan. Tetapi bagi kita sebagai pembaca, efeknya justru sebaliknya: lebih banyak stres, kecemasan, dan beban pikiran. Tanpa disadari, kebiasaan ini membuat seseorang lebih tegang dan mudah terpancing emosi, bahkan di luar konteks membaca berita.
Jika hanya dalam 14 menit membaca berita kecemasan kita bisa meningkat, maka penting bagi kita untuk lebih bijak dalam mengelola paparan berita sehari-hari. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah menghindari membaca berita sebelum tidur, karena informasi yang bernada negatif bisa mengganggu suasana hati dan membuat pikiran terus bekerja, sehingga kualitas tidur pun menurun. Selain itu, memilih sumber berita yang terpercaya juga sangat penting, agar kita tidak terjebak dalam informasi yang dilebih-lebihkan hanya demi sensasi. Tidak semua berita layak untuk dikonsumsi, dan tidak semua informasi yang viral benar-benar bermanfaat bagi ketenangan pikiran kita.
Di era media sosial, kita sering kali tanpa sadar terpapar berita negatif secara tiba-tiba, yang justru bisa memicu stres tanpa kita inginkan. Oleh karena itu, mengurangi penggunaan media sosial atau lebih selektif dalam mengikuti akun berita bisa menjadi solusi agar kita tidak terlalu sering melihat informasi yang mengganggu. Selain itu, mematikan notifikasi berita juga bisa membantu kita tetap fokus dan tidak terganggu oleh headline mengejutkan di saat-saat yang tidak tepat. Dengan langkah-langkah ini, kita tetap bisa mengikuti perkembangan dunia tanpa harus mengorbankan ketenangan dan kesejahteraan mental kita.
@pakarpemberdayaandiri











