Ketulusan Hati vs Perbuatan Baik

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam *)

Berdasarkan penelitian neurosains, kebiasaan terbentuk melalui tiga tahapan. Pertama adalah berpikir, kedua adalah melakukan, dan ketika adalah menjadi. Awalnya kita berpikir sebelum melakukan suatu perbuatan, baik disadari maupun tidak disadari. Dan saat berpikir maka saat itu pula hadir perasaan yang menjalar ke seluruh tubuh dan menjadi pendorong untuk melakukan suatu perbuatan.

Ketika kita bergerak melakukan perbuatan tersebut, maka ada umpan balik perasaan ke pikiran agar pikiran menghasilkan buah pikiran yang sesuai dengan perasaan yang dirasakan. Itulah sebabnya, saat melakukan suatu perbuatan secara berulang-ulang, akan terjadi siklus berpikir-merasa dan merasa-berpikir. Hasil akhir dari pengulangan tindakan melahirkan kebiasaan (menjadi sesuai yang dibiasakan).

Karena tahapan “menjadi” merupakan proses pengulangan tindakan, dan tindakan lahir dari siklus berpikr-merasa dan merasa-berpikir, maka produk akhir dari setiap pengalaman adalah emosi. Dan emosi (perasaan) inilah yang akhirnya menjadi penggerak otomatis dari kebiasaan. Jadi setiap perbuatan dan kebiasaan tidak akan pernah lepas dari dorongan hati.

Mungkin ini sebabnya sehingga Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw menuturkan, “Sesungguhnya segelintir orang menyembah Allah dikarenakan keinginannya mengharapkan imbalan, maka ibadahnya adalah ibadah seorang pedagang. Dan segelintir lainnya menyembah Allah dikarenakan ketakutan – akan siksa –, maka ibadahnya adalah ibadah seorang budak. Dan segelintir lainnya menyembah Allah dikarenakan -ingin – syukur, maka ibadahnya adalah ibadah orang yang merdeka”.

Dalam konteks neurosains, tingkatan ibadah berarti tingkatan perasaan dalam melakukan suatu perbuatan baik. Ada yang melakukan perbuatan baik karena mengharapkan sesuatu; ada dorongan perasaan berupa kepentingan pribadi. Ada yang karena perasaannya merasa takut dimarahi, takut diberi sanksi, atau merasa takut akan sesuatu, sehingga ia berbuat baik. Dan ada yang berbuat baik karena benar-benar merasa sudah semestinya untuk berbuat baik; perasaan tulus dan demi mengharapkan Ridha-Nya.

Dorongan perasaan berupa takut akan sesuatu ataupun mengharapkan sesuatu adalah domain kekuatan/daya hasrat/nafsu. Dimana kesenangan hasrat adalah ketika dipenuhi hasrat itu dan kesengsaraan/derita akan dialami ketika menolak memenuhi hasrat tersebut. Karena perbuatan baik (seharusnya) berarti kita mesti mengontrol dorongan hasrat, dan disaat yang sama perbuatan baik dilakukan karena dorongan perasaan takut atau mengharapkan sesuatu, maka ketika tidak sesuai yang dharapkan oleh kepentingan ego akan menyebabkan perbuatan baik yang dilakukan tidak akan melahirkan kebahagiaan.

Makanya jangan heran ada yang justru marah-marah ketika diminta melakukan perbuatan baik. Di luar ia terlihat rajin bekerja, tapi di dalam hatinya ia merasa marah dan kecewa karena hasratnya tidak terpenuhi. “Sudah capek bekerja, dimarahi lagi, dan setelah itu, tidak ada uang lembur”, begitulah yang sering dikatakan oleh mereka yang melakukan perbuatan baik karena didorong oleh perasaan takut atau mengharapkan sesuatu.

Ia hanya akan merasa senang ketika perbuatan baik yang dilakukannya tidak mesti mengontrol keinginan hasrat. Atau dengan kata lain seluruh hasratnya juga terpenuhi yang beriringan dengan perbuatan baik yang dilakukannya. Dan perbuatan baik seperti ini belum tentu merupakan akhlak baik, karena belum menjadi sebuah kebiasaan. Bahkan bisa jadi merupakan akhlak buruk karena perbuatan walaupun baik, tidak akan pernah terpisah dari dorongan hati. Secara lahir ia berbuat baik, namun hatinya justru demi ingin memuaskan hasratnya semata.

Yang rugi sudah pasti adalah diri sendiri ketika melakukan perbuatan baik tanpa dorongan hati yang tulus, karena sudah capek, membuat hati jengkel dan marah, membuat diri menjadi stres yang ujungnya menjadi mudah sakit, dan pada akhirnya nilai perbuatan baiknya hanya sesuai dengan kadar level hatinya.

Maka penting bagi kita untuk belajar mengenal diri sendiri, untuk belajar memahami berbagai perasaan yang kita rasakan, untuk menyelami isi hati sendiri, agar kita bisa mengubah perasaan kita dari hanya sekadar takut atau mengharapkan sesuatu ke perasaan yang tulus dalam setiap perbuatan baik dan ibadah yang kita lakukan. Karena dengan melatih hati menjadi tulus dan ikhlas akan membuat kita bahagia, terlepas dari stres, dan nilai perbuatan baik kita akan bernilai pada kesempurnaan kemanusiaan diri kita sendiri.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *