Mengapa Mesti Shalat?

Syahril Syam, Pakar Pemberdayaan Diri

Oleh: Syahril Syam *)

Suka atau tidak suka, kita selalu dipengaruhi oleh berbagai gangguan dan rangsangan yang berasal dari luar diri kita. Segalanya berlangsung sangat cepat dan ada begitu banyak gangguan dan rangsangan yang menghampiri kelima indra kita. Semua itu menarik perhatian kita baik secara sadar maupun tidak. Mata kita menyerap informasi 100 juta bit per detik, telinga menyerap informasi 30 ribu bit per detik, dan indra peraba (kulit dan lidah) menyerap 100 juta bit per detik. Itu semua terjadi tanpa kita sadari, karena informasi yang kita sadari hanya sekitar 40-120 bit per detik atau 5-9 hal per detik.

Dengan begitu banyak informasi yang kita serap secara sadar maupun tidak sadar, maka bisa dibayangkan betapa stresnya pikiran dan tubuh kita. Kalau semua informasi yang diserap adalah hal-hal yang membahagiakan, maka sudah pasti pikiran dan tubuh kita akan tenang, rileks, nyaman, dan bahagia. Namun jika yang diserap adalah kebanyakan masalah-masalah yang menguras energi kita, maka stres-lah yang terjadi.

Saat kita shalat, maka syarat utamanya adalah khusyuk agar benak kita benar-benar tetap tenang walau ada begitu banyak gangguan dan rangsangan eksternal; agar benak kita lebih tenang dan bersih, serta terasa lebih nyaman di benak, tubuh, dan kehidupan kita. Saat kita shalat, kita melatih diri untuk melepaskan pikiran dan tubuh kita dari segala keadaan eksternal, melepaskan diri dari berbagai gangguan dan rangsangan eksternal. Kita berada di kondisi ketenangan dan melatih benak untuk lebih fokus dan minim gangguan. Karena selain gangguan dan rangsangan eksternal, gangguan yang seringkali juga muncul adalah dari tubuh kita sendiri dengan menghadirkan begitu banyak gejolak emosional, dan dari pikiran kita yang seringkali melanglang buana.

Shalat berarti kita melakukan hubungan dengan Sang Maha Sempurna. Kita melakukan koneksi pikiran dan perasaan kepada-Nya melalui pemaknaan kita akan Kebesaran, Keagungan, Keindahan, dan Kesempurnaan Sang Maha Agung. Makin intens pemaknaan kita, maka pikiran dan perasaan kita makin terserap kepada-Nya. Bukankah Sang Maha Sempurna adalah sesuai prasangkaan kita? “Aku menurut prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya saat ia mengingat-Ku. Jika ia mengingatku dalam kesendirian, Aku akan mengingatnya dalam kesendirian-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam keramaian, Aku akan mengingatnya dalam keramaian yang lebih baik daripada keramaiannya. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya se depa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari”, demikian yang disampaikan hadits Qudsi.

Dalam kondisi ini, maka walau terdapat begitu banyak pikiran dan gejolak emosi yang muncul, maka secara alamiah kita akan menemukan ketenangan. Karena kita tidak lagi terpaku pada pikiran dan gejolak emosi yang muncul, melainkan kita berada dalam perspektif yang lebih tinggi, yaitu perspektif Kebesaran, Keagungan, dan Kemuliaan Sang Maha Sempurna. Pemaknaan kita akan Sang Maha Sempurna inilah yang menjadi tumpuan fokus pikiran dan hati kita. Dan bukan pada suatu objek tertentu.

Karena ketenangan, kedamaian, kenyamanan, dan kebahagiaan adalah salah satu pencapaian yang ingin kita temukan pada diri kita, maka jalan terbaik adalah masuk ke dalam diri sendiri. Belajar untuk tetap tenang walau ada begitu banyak gangguan dan rangsangan. Inilah mengapa shalat yang khusyuk merupakan kemestian bagi kita. Tentu saja, karena shalat adalah juga mikraj ruhani, maka perjalanan ruhani kita tidak hanya berhenti pada ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan semata; melainkan terus akan berjalan hingga mencapai level hamba yang hina di hadapan Kemuliaan-Nya. Bukankah Nabi Muhammad SAW adalah sebaik-baik hamba?

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *