Mengingat-NYA atau Selain-NYA ?

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Ada hal menarik terkait hati kita. Karena hati adalah wadah yang dimana selalu muncul lintasan-lintasan pikiran, maka hati kita seringkali memunculkan sesuatu perasaan yang diiringi oleh hadirnya pikiran terkait perasaan yang muncul tersebut. Dan yang muncul dan hadir biasanya selalu terkait dengan segala sesuatu yang mengikat hati kita. Dengan kata lain, apapun yang hati kita terikat padanya, maka hati kita pun akan selalu menghadirkan perasaan dan pikiran yang terkait hal itu.

Bangun pagi tiba-tiba memikirkan pekerjaan kantor yang hampir deadline. Ada perasaan tidak nyaman dan diikuti oleh berbagai tumpukan pikiran terkait pekerjaan kantor tersebut. Tiba-tiba hadir lirik lagu di benak, tiba-tiba hadir pikiran tentang ini dan itu. Semuanya muncul dan hadir secara otomatis tanpa kontrol sadar dari diri kita. Bahkan pada kasus-kasus mental health, tiba-tiba muncul kecemasan yang diiringi pikiran-pikiran yang membuat hati semakin merasa cemas. Semakin besar keterikatan hati kita pada orang, peristiwa, tempat, benda, dan waktu, maka semakin sering hadir secara otomatis perasaan dan pikiran terkait itu.

Dan karena bawah sadar kita tidak bisa membedakan baik atau buruk, bermanfaat atau tidak bagi kesehatan tubuh dan jiwa kita, maka yang hadir pada hati dan benak seseorang bisa berupa kebahagiaan, kesedihan, kebencian, kemarahan, kekecewaan, hingga kecemasan dan depresi. Jiwa kita memiliki kemampuan yang luar biasa dalam merekam apapun yang kita ingat, khususnya ingatan-ingatan yang begitu dalam membekas di hati.

Apapun yang berupa orang, peristiwa, tempat, benda, atau waktu, ketika semua itu begitu membekas di hati, maka ingatan kita tentangnya pun akan sangat kuat. Awalnya berupa pengalaman dengan orang, peristiwa, tempat, benda, atau waktu. Tanpa kita sadari, saat berada dalam keadaan pengalaman itu, otak kita merekam semua yang kita alami. Dan apapun rekaman (ingatan) yang paling kuat kehadiran perasaannya, maka ingatan dan perasaan itu akan membekas sangat dalam di hati dan bertahan dalam waktu yang lama.

Inilah yang terjadi pada kasus-kasus mental health. Yang lucu ada seorang klien yang berkata kepada penulis bahwa ia tidak suka marah-marah, tidak mudah khawatir dan takut. Namun disaat yang sama ia mengalami gangguan kecemasan akut. Ia tidak sadar bahwa kecemasan yang dialaminya saat ini adalah karena ia terlalu sering mengalami dan mengingat hal-hal yang menghadirkan perasaan marah, jengkel, panik, khawatir, dan takut.

Jika senantiasa mengingat orang, peristiwa, tempat, benda, atau waktu – dan semua itu membekas di hati – cenderung membuat seseorang menjadi galau, khawatir, sedih, takut, dan cemas, maka sudah saatnya kita melatih diri untuk mengingat Sang Maha Sempurna. Segala ciptaan-Nya seharusnya membuat kita merenung akan Kebesaran dan Keagungan-Nya. Apa yang kita alami, dengan siapa kita menjalani hidup, hubungan dengan teman, pekerjaan, orang, peristiwa, tempat, benda, dan waktu, seharusnya menjadikan kita sadar bahwa semua itu adalah tanda-tanda Kebesaran, Keagungan, dan Keindahan-Nya. Kita mesti belajar untuk selalu mengingat-Nya dan menjadikan ingatan itu membekas di hati. Karena hanya dengan membekas di hati-lah, baru terjelma perasaan yang tenang dikala mengingat-Nya.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *