Oleh: Syahril Syam *)
Sejak lahir, kecenderungan bawaan yang pertama kali aktif pada diri kita adalah kecenderungan jasmaniah. Karena kecenderungan jasmaniah menghubungkan hasrat kita dengan sesuatu di luar diri kita, maka kecenderungan ini bersifat motivasi eksternal. Hasrat kita berupa makan, minum, seks, dan berbagai keinginan akan sesuatu, memotivasi kita untuk memperoleh semua itu di luar diri kita. Dengan kata lain, segala sesuatu yang ada di luar diri kita menjadi pemicu lahirnya motivasi ini, sehingga disebut sebagai motivasi eksternal.
Seseorang bisa saja berbuat baik, bersikap sopan, dan patuh kepada perintah karena di dorong oleh motivasi eksternal. Ingin memperoleh gaji, maka ada aturan dan perintah yang mesti dipatuhi, mesti menjaga sikap, dan berpenampilan baik. Sehingga belum tentu semua hal baik yang dilakukan oleh seseorang dikarenakan oleh kesadaran dirinya, melainkan bisa juga karena dorongan dari motivasi eksternal ini. Begitu kuatnya hasrat jasmani ini sehingga seringkali melahirkan dorongan emosional untuk segera memenuhinya. Makanya segala hasrat yang lahir dari kecenderungan jasmani disebut sebagai kecenderungan emosional.
Di satu sisi, ada bagian otak kita yang berfungsi sebagai CEO atas diri kita. Filsafat Islam menyebutnya sebagai akal, yaitu kemampuan kita untuk berpikir, menganalisis, mengambil kesimpulan, tahu mana benar dan salah, serta tahu mana yang baik dan buruk. Masalah akan terjadi ketika keinginan CEO otak bertentangan dengan berbagai kecenderungan emosional kita. CEO otak menginginkan kita bangun shubuh karena tahu bahwa itu benar dan baik, namun secara emosional tubuh berusaha memblokir keinginan itu dengan – secara otomatis – melahirkan berbagai alasan kenapa mesti lanjut tidur.
Ada tarik menarik keinginan antara CEO otak dan hasrat tubuh. Dan seringkali yang menang adalah berbagai hasrat jasmani (kecenderungan emosional). Bahkan ketika terjadi konflik yang begitu intens antara keduanya, maka bawaannya adalah stres dan akhirnya kembali hasrat jasmani yang menang (bawaannya menjadi malas). Karena CEO otak tahu mana yang benar dan salah, juga mana yang baik dan buruk, maka setiap keinginan CEO otak lahir dari kesadaran diri dan tanggung jawab. Makanya disebut sebagai motivasi internal, karena termotivasi tidak lagi dipengaruhi oleh berbagai hal yang ada di luar diri. Itulah sebabnya, seringkali terjadi konflik antara tangung jawab dan hasrat emosional.
Dengan demikian, agar kita senantiasa berada pada jalur yang benar dan baik, maka mesti melatih diri untuk membiarkan CEO otak menguasai berbagai hasrat jasmani. Karena hanya dengan menguasai kecenderungan emosional dari tubuh, barulah kita bisa berpindah dari motivasi eksternal ke motivasi internal. Sehingga bekerja bukan lagi karena sekadar menginginkan uang, tetapi karena adanya kesadaran diri dan tanggung jawab yang mesti diemban dari amanah pekerjaan yang diberikan kepada kita. Pola yang sama juga berlaku pada pasangan, orang tua, anak, teman, kelompok, dan masyarakat. Bahwa ada tanggung jawab kita di setiap aspek kehidupan.
@pakarpemberdayaandiri











