Pengkondisian Mental Sebagai Kunci Kesembuhan

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam *)

Salah satu penelitian terkenal di dunia psikologi tentang pengkondisian adalah penelitian yang dilakukan oleh Ivan Pavlov (1849-1936), fisikawan Rusia yang terkenal dengan penelitiannya tentang kondisi refleks dan kondisioning klasik. Suatu ketika Pavlov meletakkan daging di depan anjing lapar yang hanya dapat menciumi dan melihatnya tetapi tidak dapat menyentuhnya. Daging ini menjadi rangsangan yang kuat bagi anjing merasakan rasa laparnya. Segera anjing-anjing itu mengeluarkan air liur berlebihan. Sementara anjing-anjing ini sedang dalam keadaan sangat lapar, Pavlov tetap membunyikan bel dengan nada tertentu. Segera ia tidak membutuhkan daging lagi – ia hanya perlu membunyikan bel dan anjing segera merasa lapar seolah ada daging di depan mereka. Ia telah menciptakan hubungan saraf antara bunyi bel dan keadaan lapar atau keluarnya air liur. Sejak saat itu, ia hanya perlu membunyikan bel dan anjing segera berada dalam keadaan lapar.

Tercipta pengkondisian otak dan jaringan saraf pada anjing-anjing tersebut. Pengkondisian yang sama juga terjadi ketika seseorang mengalami fobia, ketakutan yang berlebihan atau tidak rasional terhadap sesuatu. Mentalnya mengalami pengkondisian dan kondisi mentalnya akan berubah saat dipicu oleh stimulus tertentu. Artinya, mental kita akan selalu berada dalam pengkondisian tertentu dan keadaan mental ini dipicu oleh orang, tempat, benda, dan waktu. Saat kita berada dalam kondisi mental tertentu, maka jaringan sel otak dan saraf akan bekerja dengan pola dan ritme yang sama dan sesuai dengan pengkondisian mental kita. Berarti ada banyak pola mental pada diri kita. Mulai dari pola marah, kecewa, jengkel, stres, bahagia, syukur, dan pola-pola mental yang sesuai dengan keadaan hati kita.

Secara umum pengkondisian mental kita hanya terbagi dua, yaitu mental destruktif dan konstruktif. Karena setiap keadaan mental memiliki pola jaringan sel otak dan saraf yang sesuai dengan keadaan mental yang sementara dirasakan, maka sakit dan sembuh pun memiliki pola yang berbeda. Banyak orang terkondisikan dengan pikiran dan perasaan destruktif. Terjadi siklus pikiran dan perasaan stres dan hal ini terkondisikan setiap hari. Yang terjadi pada kebanyakan orang yang sakit adalah pengkondisian mental siklus stres-penyakit dan penyakit-stres. Pengkondisian dua arah atas pikiran, emosi, dan penyakit.

Jika penelitian Pavlov menempatkan mental kita terkondisikan secara alamiah dan otomatis saat menjalani kehidupan ini, maka sesungguhnya kita bisa secara sadar menciptakan pengkondisian mental agar sesuai dengan yang kita harapkan. Keyakinan dan persepsi kita bisa memainkan peran penting dalam menciptakan pengkondisian mental. Dan ini bisa kita lihat pada penelitian yang dilakukan kepada 220 siswa perempuan yang diminta membaca laporan penelitian palsu (siswa perempuan ini tidak tahu bahwa laporannya adalah palsu) yang mengklaim bahwa laki-laki memiliki keunggulan lima persen dibandingkan perempuan dalam kinerja matematika.

Kelompok dibagi menjadi dua, dengan satu kelompok membaca bahwa keuntungan tersebut disebabkan oleh faktor genetik yang baru ditemukan, sedangkan kelompok lainnya membaca bahwa keuntungan tersebut dihasilkan dari cara guru menstereotipkan (penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan) anak perempuan dan laki-laki di sekolah dasar. Kemudian subjek diberikan tes matematika. Wanita yang membaca bahwa pria memiliki keunggulan genetik mendapat skor lebih rendah daripada mereka yang membaca bahwa pria memiliki keuntungan karena stereotip. Artinya ketika mereka berpikir dan merasa bahwa kerugian mereka tidak dapat dihindari (karena sudah bawaan genetik), para perempuan tersebut merasa seolah-olah mereka benar-benar memiliki kekurangan dibandingkan laki-laki.

Kesadaran kita sendiri dapat memiliki efek fisik yang penting pada tubuh dan kesehatan kita. Apa yang kita pelajari dan bahasa yang kita gunakan untuk mendefinisikan apa yang akan kita alami, dan bagaimana kita memberikan makna pada sesuatu, semuanya memengaruhi niat kita. Dan ketika kita menempatkan niat yang lebih besar di balik apa yang kita lakukan, secara alami kita mendapatkan hasil yang lebih baik. Apa yang kita yakini tentang diri kita sendiri memengaruhi kinerja kita, termasuk seberapa sukses dan sehatnya diri kita. Jadi kita mesti secara sadar menciptakan pengkondisian mental konstruktif agar bisa sembuh dan sehat.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *