Oleh: Syahril Syam *)
Konsep sentral dalam skema Martin Seligman – Bapak Psikologi Positif – tentang psikologi positif adalah Authentic Happiness atau Kebahagiaan yang Autentik (Kebahagiaan yang Asli). Hal ini merujuk pada sebuah keadaan kesejahteraan dan kepuasan yang muncul dari menjalani kehidupan yang sejalan dengan nilai-nilai, kekuatan, dan minat yang sesungguhnya.
Hal ini melampaui momen-momen kesenangan singkat atau kepuasan sementara dan sebaliknya mencakup rasa pemenuhan yang lebih dalam yang berasal dari menjalani hidup secara autentik. Kebahagiaan dalam pandangan psikologi positif merupakan tujuan akhir yang universal dan kekal. Tujuan akhir dari segala aktivitas, segala daya upaya, segala pergumulan dan perjuangan dalam hidup ini.
Berdasarkan penelitian, kebahagiaan (Happiness) dipengaruhi atau merupakan hasil akhir dari kombinasi tiga komponen, yaitu faktor-faktor yang bersifat bawaan (Rentang Set/Set Range), faktor-faktor yang bersifat eksternal (Keadaan/Circumstances), dan tindakan-tindakan yang dipilih secara sukarela (Aktivitas Sukarela/Voluntary Activities). Dapat dirumuskan sebagai berikut: H = S + C + V.
Set Range (Rentang Set) mengacu pada bagaimana kita cenderung kembali ke tingkat kebahagiaan yang kira-kira sama setelah mengalami peristiwa-peristiwa baik atau buruk dalam hidup kita. Rentang Set adalah sebagian genetis dan sebagian juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Ada orang yang selalu membutuhkan canda tawa agar hidup tak terasa kering. Ada juga yang hanya butuh sedikit “dosis” canda tawa agar hidup tak lagi garing. Ini adalah contoh kebahagiaan seseorang karena faktor bawaan (genetik). Circumstances (Keadaan) mengacu pada situasi dan kondisi eksternal dalam hidup seseorang yang dapat mempengaruhi kebahagiaannya. Ini bisa termasuk faktor-faktor seperti status sosial, kekayaan materi, kesehatan, dan lingkungan fisik. Dan Voluntary Activities (Aktivitas Sukarela) mengacu pada tindakan-tindakan yang dipilih secara sadar oleh seseorang untuk meningkatkan kebahagiaannya. Ini bisa termasuk aktivitas-aktivitas seperti mempraktikkan rasa syukur, berolahraga, menjalin hubungan sosial yang positif, dan mengejar tujuan yang bermakna.
Dari ketiga faktor penentu kebahagiaan, psikologi positif memberikan penekanan terbesar pada Voluntary Activities atau faktor V. Alasannya karena faktor V adalah berbagai hal yang bergantung pada karakter dari diri kita. Hal ini menyangkut pilihan-pilihan apa yang kita buat dalam menyikapi berbagai situasi kehidupan. Nampaknya psikologi positif meletakkan tanggung jawab akan kebahagiaan kepada karakter dari setiap manusia. Dan bukannya menjadikan diri kita sebagai “korban” dari konstelasi genetika (faktor S), ataupun karena perubahan-perubahan situasi kehidupan yang tak menentu (faktor C).
Sedikit berbeda dengan makna karakter di atas, dalam ilmu akhlak, karakter biasa juga disebut dengan akhlak, yang bermakna kepemilikan jiwa (diri) atas sifat-sifat tertentu (baik atau buruk), yang (dari kepemilikan sifat ini) memunculkan perbuatan secara otomatis (kebiasaan). Maka akhlak mengupas tentang baik dan buruk dalam relevansinya dengan “harus” dan “tidak boleh”. Artinya jika itu baik maka harus dilakukan, dan jika itu buruk maka tidak boleh dilakukan. Penekanan pada keharusan atau ketidakbolehan yang merupakan sifat otomatis ini adalah pada pengontrolan berbagai sifat-sifat binatang (berupa nafsu dan amarah). Tujuannya adalah agar jiwa (diri) kita dapat berpindah dari level binatang (atau di bawah binatang)) ke level malaikat (atau di atas malaikat), yang tujuan akhirnya adalah kebahagiaan hakiki. Dimana kebahagiaan hakiki yang paling sempurna adalah tertanamnya dan termanifestasikannya sifat-sifat Ketuhanan pada diri kita.
@pakarpemberdayaandiri











