Semua Bergantung Keadaan Hati

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Mungkin ada di antara kita yang seringkali mendengar bahasa-bahasa seperti ini: “Saya sudah tua, sudah tidak kuat”, “Saya sudah tidak bisa lagi belajar, otak saya sudah tidak mampu”, “Saya tidak lagi muda, jadi tidak kuat begadang”, “Saya mudah lupa”, “Jantung saya suka berdebar-debar kalau terlalu banyak minum kopi robusta”, “Saya mudah sakit kepala jika terkena gerimis hujan”, “Saya mesti tidur delapan jam agar tetap sehat”, dan berbagai banyak lagi bahasa-bahasa sejenis yang sering diucapkan dan mewakili apa yang dirasakan di hati. Artinya, karena hal-hal itu yang dirasakan di hati, maka hal itu pulalah yang diucapkan secara lisan.

Mungkin itu sebabnya sehingga Imam Ali Ar-Ridha berkata, “Iman (keyakinan) adalah pengenalan lewat hati, pengakuan dengan lisan, dan pelaksanaan dengan anggota tubuh.” Dan hal ini bukan tanpa alasan, karena penelitian neurosains juga menunjukkan bahwa emosi adalah pengikat keyakinan. Artinya setiap apapun yang kita yakini, selalu ada muatan emosi di dalammnya, dan emosi ini menjadi tenaga penggerak tindakan kita, juga menjadi pendorong lisan kita dalam menyampaikan apa yang kita rasakan.

Nah, apapun yang disampaikan di atas sesungguhnya menggambarkan keadaan hati seseorang; menggambarkan keadaan mentalnya. Dan karena keadaan mentalmya seperti yang disampaikannya, maka seluruh tubuhnya bekerja sesuai dengan keadaan hatinya. Usia tidak akan pernah bisa dihentikan, namun ketika keadaan hati seseorang berupa loyo, tidak kuat begadang, tidak mampu belajar, dan berbagai keadaan hati lainnya, maka seperti itu jugalah yang terjadi pada tubuhnya. Karena seluruh sel tubuh akan selalu berubah mengikuti keadaan hati.

Penelitian Ellen Langer menunjukkan bahwa orang tua yang telah berusia di atas 70 tahun, ketika mereka mengubah keadaan hatinya, dari merasa sudah sangat tua ke merasa muda, dan tindakan mereka pun sesuai dengan perasaan awet muda yang mereka rasakan, maka yang terjadi adalah mereka bisa berdiri lebih tegak, berjalan dengan gaya yang lebih stabil, arthritis mereka mulai membaik sehingga mereka bisa menggenggam dengan lebih kuat, serta ketangkasan tubuh mereka menjadi semakin baik. Bahkan, mereka juga mengalami peningkatan dalam hal kecerdasan dan daya ingat. Artinya usia boleh saja bertambah, namun keadaan hati mampu menentukan seberapa kuat fisik kita bertahan, seberapa kuat daya ingat dan belajar kita, dan seberapa kuat daya kesehatan tubuh kita.

Ketika seseorang sering mengeluh dan keluhan itu merupakan pancaran keadaan (isi) hatinya, maka saat itu tubuhnya bereaksi mengikuti apa yang dirasakannya. Jadi jangan heran, banyak anak muda yang masih belia sudah terkena berbagai macam penyakit. Sehingga sebenarnya berbagai informasi kesehatan yang banyak beredar bisa memiliki dua sisi. Ketika informasi itu benar-benar diyakini dan dirasakan benar di hati, maka informasi itu menjelma pada tubuh. Namun ketika informasi kesehatan itu ditolak oleh hati kita dan diganti dengan perasaan yang berbeda dengan yang disampaikan, maka informasi itupun sulit menjelma di tubuh kita.

Maka jangan heran ada orang yang mudah berdebar jantungnya ketika banyak minum kopi, dan ada juga yang jantungnya baik-baik saja walau minum kopi yang sama. Apa yang terjadi pada diri kita tergantung pada keadaan hati kita sendiri. Dan tentu saja hal ini bukan berarti kita mesti 100% mengabaikan saran medis.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *