Oleh: Syahril Syam *)
Setiap dari kita pasti pernah bermimpi. Dan saat bermimpi, maka sepenuhnya diri kita berada dalam kendali mimpi. Semua pilihan yang kita buat bergantung pada situasi yang terjadi di dalam mimpi. Jika situasi dikejar anjing, maka kita cenderung lari dan hasilnya napas tersengal-sengal, jantung berdegup kencang, dan berbagai reaksi tubuh terjadi sesuai dengan kondisi takut akan anjing.
Saat bermimpi (maaf) seks, maka organ tubuh juga akan menyesuaikan dengan keadaan itu. Semua pilihan, sikap, tindakan, dan reaksi tubuh akan selalu disesuaikan dengan kondisi mimpi. Kita berada dalam kondisi seolah tidak punya pilihan hidup karena sepenuhnya bergantung pada kondisi mimpi. Dan kondisi ini terjadi di saat tidur, yang juga membuat kita berada dalam keadaan tidak bisa memilih.
Sungguh ironis, karena keadaan tidur seperti di atas justru juga dialami – oleh kebanyakan orang – saat berada dalam kondisi sadar (tidak tidur). Artinya, kebanyakan orang berada dalam kondisi tidur disaat tidak tidur. Mereka sadar normal, namun menjalani hidup seperti orang yang berada dalam kondisi tidur.
Pilihan hidupnya seolah tak ada pilihan, dikarenakan sikap, tindakan, dan reaksi tubuhnya merupakan hasil dari stimulus eksternal; disebabkan oleh keadaan di luar diri. Marahnya bukan karena pilihan sadar tapi karena situasi yang memicunya marah. Bahagianya pun bukan karena pilihan sadar, tetapi karena berada di situasi yang menyenangkan. Hidupmya seperti orang yang tidur, padahal keadaannya berada dalam kondisi tidak tidur.
Keadaan tidur seperti ini membuat hidup serasa hampa dan tenggelam ke dalam derasnya arus kehidupan. Kehidupan yang dijalani bukan lagi karena pilihan sadar, tetapi karena pengaruh situasi yang mendorong hingga harus memilih demikian. Benar-benar mirip orang yang sedang tidur dan sedang bermimpi.
Maka jangan heran, seringkali nilai baik dan buruk tidak lagi punya arti. Semua cara dihalalkan hanya karena mengikuti keterlenaan emosional. Mengalami perasaan candu yang distimulus oleh pengaruh di luar diri. Awalnya, situasi mendorong untuk bekerja karena mesti memenuhi kebutuhan hidup.
Setelah bekerja dan memiliki uang serta merasakan nikmatnya banyak uang, maka kemudian perasaan candu akan kenikmatan tersebut mendorong untuk menghalalkan segala cara. Inilah kondisi ketika seseorang semakin terlena dalam lelapnya tidur dan tenggelam semakin dalam ke dalam mimpinya sendiri.
Berbeda dengan kondisi tidur, kondisi terjaga berarti kita sadar dengan berbagai pilihan dan secara sadar memilih karena kita tahu bahwa setiap pilihan memiliki nilai kebaikan dan keburukan. Terjaga berarti kita sadar bahwa kehidupan memiliki tujuan, dan karenanya setiap pilihan adalah dalam upaya menuju ke tujuan tersebut. Terjaga berarti kita menyadari bahwa sikap dan tindakan kita mesti atas dasar nilai-nilai kemanusiaan, dan karenanya tidak akan membiarkan kebiasaan yang melenakan mengontrol hidup kita lagi.
Terjaga berarti kita menyadari bahwa keharusan atau tidak bolehnya melakukan suatu tindakan selalu memiliki nilai yang independen dan tidak bergantung pada kepentingan, karena setiap sifat, sikap, dan perbuatan kita akan selalu berefek pada kesempurnaan jiwa (diri) atau menjadikan diri semakin terpuruk. Dengan kata lain setiap perbuatan selalu memiliki nilai objektif sehingga perbuatan yang sama akan selalu memiliki efek yang sama pada setiap manusia. Perbuatan baik selalu berefek baik bagi kesempurnaan diri, dan perbuatan buruk akan selalu berefek buruk bagi perkembangan jiwa.
Dengan demikian, terjaga adalah berkesadaran dan dengan itu kita berada pada perjalanan hidup yang baru. Tidak lagi berputar pada pengulangan kehidupan masa lalu. Rutinitas kehidupan boleh saja sama, namun nilai kehidupan kita akan selalu berbeda. Karena jiwa kita akan selalu berkembang ke arah kesempurnaan dan menjadikan kita terus bergerak menjadi semakin dewasa dalam melihat hidup dan menjalani kehidupan.
@pakarpemberdayaandiri











