Transformasi Hati

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Makanan tubuh dan jiwa jelas berbeda. Tubuh membutuhkan makanan yang nampak dan bisa diraba, sedangkan jiwa bersifat memahami, memaknai, dan merasakan. Itulah sebabnya jiwa membutuhkan makanan berupa ilmu agar memahaminya, merasakannya, dan akhirnya mempraktekkannya. Neurosains menunjukkan kepada kita bahwa sekadar memahami, tidak akan melahirkan tindakan. Dibutuhkan hingga pada tingkat merasakan, baru kemudian lahir tindakan. Jadi jangan heran, ada begitu banyak orang tahu mana yang benar dan mana yang salah, namun tindakannya seringkali bertolak belakang dengan apa yang diketahuinya.

Maka di sinilah letaknya penyucian hati. Karena melalui apa yang kita rasakanlah, suatu perilaku itu lahir. Dan hal ini tidak berlaku sebaliknya. Dengan kata lain, suatu perilaku belum tentu mencerminkan hati kita. Manusia pada hakikatnya adalah hasil dari perbuatan-perbuatannya. Dan karena perbuatan di dorong oleh apa yang dirasakannya, maka setiap perbuatan membuat jiwa senantiasa mengalami perubahan. Artinya, hati manusia akan selalu mengalami perubahan seiring dengan perbuatan kita.

Sayangnya, seperti yang telah disampaikan di atas bahwa suatu perbuatan belum tentu mencerminkan hati seseorang, maka di sinilah kita mesti jujur dengan hati kita sendiri; mesti jujur dengan apa yang kita rasakan. Karena suatu perbuatan baik tidak selalu hadir dari hati yang juga baik. Terkadang perbuatan baik lahir dari hati yang penuh kesombongan, ingin dipuji, atau semata-mata hanya mengharapkan keuntungan dunia.

Dan jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya perbuatan baik yang dilakukan seseorang telah menipu dirinya sendiri. Ia mengira bahwa jiwanya mengalami transformasi ke arah kesempurnaan kemanusiaan, namun tanpa disadarinya, hatinya justru semakin tenggelam ke dalam kemabukan egoisme. Tentu saja, kita tetap mesti terus berusaha melakukan perbuatan-perbuatan baik. Dan disaat yang sama, mesti menyadari apa yang dirasakan oleh hati kita.

Dari hal ini tergambar dengan sangat jelas bahwa mengontrol hati (mengontrol perasaan) tidaklah mesti melalui mematikan segala rasa terkait dunia. Karena walau seseorang rutin menghindari makan daging, namun jika hatinya masih merasakan kerinduan makan daging, maka selama itu ia masih dikontrol oleh keinginan dunia. Dan hal ini berlaku pada seluruh aspek kehidupan kita. Begitu juga sebaliknya, walau kita tetap makan daging dan selain daging, namun jika hati kita tidak lagi merasakan kerinduan pada setiap kelezatan makanan, maka kita tidak lagi dipengaruhi oleh berbagai keinginan duniawi. Karena perasaan yang hati kita rasakan adalah sebagai pengikat, maka transformasi hati berarti melepaskan keterikatan kepada dunia, walau tetap hidup di dalam dunia.

Dengan demikian, sebuah perbuatan mesti melewati – paling tidak – dua tahapan agar bisa disebut sebagai perbuatan baik. Pertama, tulus dan ikhlas melakukan perbuatan baik. Tidak boleh ada perasaan ingin pamer, dipuji, dan ingin diakui. Kedua, mesti lepas dari perasaan bangga dan sombong. Hanya dengan hati yang bersihlah, maka perbuatan baik yang kita lakukan akan benar-benar bisa membuat hati kita bertransformasi ke arah kesempurnaan kemanusiaan. Hati kita mesti merasakan bahwa perbuatan baik yang kita lakukan benar-benar murni karena Allah SWT, tanpa embel-embel apapun selain-Nya. Inilah pentingnya melatih diri di kehidupan dunia ini, dalam upaya menyucikan diri kita.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *