Oleh Syahril Syam *)
Baru-baru ini ada seorang klien yang bertemu untuk diterapi. Ia mengalami jantung yang berdebar-debar, hidung dan dada sesak sehingga sulit bernapas, asam lambung yang mengganggu, dan tubuh terasa panas yang panasnya terasa dari dalam tubuhnya sendiri. Ia sudah melakukan pemeriksaan medis, namun jantungnya baik-baik saja, hidung dan dadanya pun demikian. Intinya tak ada masalah apapun secara medis, kecuali hanya masalah asam lambung. Juga tidak ditemukan – secara medis – apa yang menyebabkan seluruh tubuhnya terasa sangat panas.
Ia sudah ke banyak tempat pengobatan alternatif dan tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Ia masih mengalami gejala yang sama dan sangat mengganggu. Banyak pengobatan alternatif yang menyampaikan bahwa ia terkena gangguan jin, namun tidak ada satupun pengobatan alternatif yang bisa menyembuhkan sakit yang dialaminya. Bahkan ia semakin mudah panik dan sulit tidur karena sesak napas dan jantung yang sering berdebar-debar.
Selama hampir 400 tahun, kita telah diberi informasi yang keliru terkait tubuh dan jiwa. Konsep dualisme Descartes memainkan peran penting dalam perkembangan awal ilmu kedokteran dan memberikan dasar bagi pemisahan studi anatomi, fisiologi, dan psikologi serta memengaruhi pendekatan terhadap kesehatan fisik dan mental. Menurut René Descartes tubuh (matterial) adalah benda fisik yang berada di ruang dan dapat diukur secara fisik. Tubuh ini dianggap tidak memiliki kesadaran atau pikiran. Di sisi lain, jiwa (res cogitans) adalah substansi yang tidak fisik, tidak mempunyai dimensi ruang, dan merupakan pusat kesadaran, pemikiran, dan identitas pribadi. Jiwa menurut Descartes tidak dapat dijelaskan dengan cara yang sama seperti materi fisik, karena ia merupakan entitas yang tidak tergantung pada materi.
Pemikiran Descartes tentang pemisahan antara tubuh (matterial) dan jiwa (res cogitans) memiliki dampak yang signifikan dalam perkembangan ilmu kedokteran, dimana tubuh dipandang sebagai mesin mekanis yang dapat dijelaskan melalui prinsip-prinsip fisika dan mekanika. Tubuh disembuhkan dengan cara seperti memperbaiki mesin motor. Maka jangan heran, ketika ada gejala medis namun tidak dapat didiagnosa oleh alat ukur medis, akan dianggap sebagai penyakit gaib. Karena semua penyakit medis dianggap tidak memiliki kaitan samasekali dengan jiwa.
Yang mesti dipahami adalah jiwa dan tubuh adalah satu, hanya saja sisi lahir disebut tubuh dan sisi batin disebut jiwa. Apa yang dialami oleh klien yang disebutkan di atas sebenarnya mengalami penyakit gaib, namun bukan karena jin, melainkan oleh sisi gaib manusia yaitu jiwanya. Ia mengalami penyakit jiwa berupa kecemasan akut. Dan karena manusia adalah satu entitas yang memiliki dua sisi, yaitu jiwa sebagai sisi batin dan tubuh sebagai sisi lahir, maka gangguan jiwanya (kecemasan akut) memengaruhi tubuhnya. Ia bahkan sampai merasakan tubuhnya terasa panas dan gatal saat kecemasan itu dibantu untuk dilepaskan dari jiwanya. Oleh sebab itu, sudah semestinya kita melepaskan pandangan pemisahan tubuh dan jiwa, dan kembali memandang manusia sebagai satu entitas yang memiliki dua sisi (lahir dan batin) yang saling memengaruhi.
@pakarpemberdayaandiri











