Dorong Produksi Migas Nasional, SKK Migas Pastikan Proyek MSF di WK Rokan Optimal

Foto SKK Migas

JAKARTA, KINERJAEKSELEN.co – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) terus mendorong peningkatan produksi migas nasional, salah satunya melalui optimalisasi teknologi di lapangan. Upaya yang saat ini gencar dikampenyakan bersama K3S adalah program Triple 100 (100 sumur eksplorasi, 100 rekahan multi-tahap/rekahan multi-lapisan , dan 100 tambahan sumur pengembangan).

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, melakukan kunjungan kerja ke proyek sumur Multi Stage Fracturing (MSF) BLSE-050 di lapangan Balam South East yang dikelola PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) di Wilayah Kerja (WK) Rokan, Provinsi Riau.

Rikky menegaskan bahwa penerapan teknologi MSF menjadi langkah strategi dalam mengoptimalkan potensi lapangan migas, termasuk lapangan yang telah berumur dan memiliki kualitas reservoir rendah (low quality reservoir ) dan cadangan yang masih cukup besar. Dia menyampaikan Program MSF ini merupakan salah satu upaya nyata untuk meningkatkan produksi dari lapangan-lapangan reservoir berkualitas rendah . Melalui teknologi ini, kita dapat membuka jalur aliran minyak yang sebelumnya sulit diproduksi, sehingga potensi yang ada dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.

Lebih lanjut Rikky menambahkan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi yang kuat antara SKK Migas dan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), penyedia jasa serta dukungan operasional yang memadai. SKK Migas terus mendorong pelaksanaan program percepatan ini dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan, efisiensi biaya, dan efisiensi operasi. Kami juga memastikan ketersediaan peralatan, pembebasan lahan, serta penguatan kapasitas operasional agar target 15 sumur MSF pada tahun 2026 dapat tercapai dan memberikan kontribusi signifikan terhadap produksi nasional.

General Manager PHR Zona Rokan, Andre Wijanarko, menjelaskan bahwa program MSF merupakan salah satu strategi utama untuk meningkatkan produksi di lapangan dengan karakteristik reservoir berkualitas rendah , yaitu kondisi batuan yang membuat minyak sulit mengalir secara alami ke sumur. Untuk mengatasinya, digunakan teknologi rekahan atau perekahan batuan dengan tekanan tinggi guna membuka jalur aliran minyak.

Metode ini dilakukan secara bertahap ( multi stage fracturing ) pada sumur horizontal, sehingga aliran hidrokarbon dapat lebih optimal dan produksi meningkat.

Andre mengungkap, pada tahun 2026 direncanakan sebanyak 15 sumur MSF akan dieksekusi, yang tersebar di tiga lapangan utama, yakni Balam South East , Bangko, dan Kotabatak, masing-masing sebanyak lima sumur.

Andre menuturkan bahwa sumur MSF merupakan sumur high profile yang artinya sumur-sumur ini diharapkan menghasilkan produksi yang tinggi, di samping hambatan operasional dan biaya yang juga tinggi. Untuk itu PHR berupaya semaksimal mungkin memastikan sumur MSF diselesaikan dengan sebaik-baiknya untuk mencapai hasil yang maksimal. Hingga saat ini, dua sumur pertama tahun ini telah menyelesaikan rekahan tahap 1 dan tengah bersiap memasuki tahap berikutnya, yang direncanakan hingga 8 tahap , dan onstream diharapkan pada akhir Mei. Selain itu, terdapat dua sumur yang masih dalam proses pengeboran serta empat sumur yang telah siap untuk dibor.

Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut, CW Wicaksono, memastikan akan terus melakukan pengawasan dan koordinasi berkelanjutan dengan PT PHR. “SKK Migas akan mengawal pelaksanaan strategi proyek hulu migas agar berjalan optimal, sekaligus mendukung pencapaian target produksi nasional, ketahanan energi, dan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.

[Man/rel]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *