Tekad Prabowo: Bangun Bandara Bali Utara dan Indonesia International Financial Center

JAKARTA, KINERJAEKSELEN.co – Tak diragukan, nama Bali, Pulau Seribu Pura, telah lama mendunia. Saking terkenalnya, Presiden Prabowo Subianto menyebut, “…banyak orang di dunia mengira Bali adalah ibu kota Indonesia.”

Pernyataan itu ia sampaikan saat menerima Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, pada 3 Agustus 2026 di Istana Negara, Jakarta.

Karena Bali adalah etalase Indonesia, Prabowo memiliki komitmen besar: membangun infrastruktur kelas dunia melalui North Bali International Airport di Buleleng. Komitmen 2024 itu kembali dipertegas ketika merespons pertemuan Penglingsir Puri se-Bali bersama tokoh masyarakat dengan Kepala KSP Jenderal Dudung Abdurachman pada 17 Juli 2026.

Merespons aspirasi langsung tersebut, Presiden segera menginstruksikan koordinasi lintas sektor.

“Saya sudah minta KSP, para menteri, dan pemerintah daerah untuk duduk bersama. Semua aspirasi dari Puri dan masyarakat Bali harus segera ditindaklanjuti. Kita percepat proyek-proyek strategis, kita jaga adat dan budaya, dan kita pastikan pembangunan sampai ke desa-desa. Bali ini wajah Indonesia di mata dunia.” Instruksi Presiden Prabowo

Instruksi usai menerima laporan pertemuan Penglingsir Puri se-Bali dengan Kepala KSP, 17 Juli 2026

Bandara Bali Utara menjadi kunci utama dari visi “The New Singapore”. Harapannya sederhana: memiliki standar yang menyamai Singapura dan Hongkong, sekaligus memecah penumpukan ekonomi di Bali Selatan. Dengan adanya bandara di utara, kawasan Lovina, Pemuteran, dan Singaraja dapat tumbuh menjadi pusat pertumbuhan baru yang berkeadilan.

Namun bandara saja tidak cukup. Untuk menopang ekonomi baru, Prabowo mendorong percepatan pembangunan Indonesia International Financial Center (IIFC) di Bali. Arahan ini disampaikan dalam rapat terbatas pada 23 Juli 2026. Targetnya jelas: menarik investor global dan menjadikan Bali pusat jasa keuangan internasional.

Agar sumber daya manusia siap, Prabowo juga memerintahkan penambahan lembaga pendidikan, khususnya Sekolah Rakyat. Saat meninjau SRMP 17 Tabanan pada Juni 2026, ia terkejut karena Bali baru memiliki 1 Sekolah Rakyat. Ia meminta para bupati segera mencari lahan dan memanfaatkan fasilitas yang ada.

Selain itu, Prabowo menekankan pentingnya menjaga demokrasi, kebersihan, dan budaya. “Bali harus tetap Bali,” tegasnya. Artinya: maju infrastrukturnya, terawat alamnya, dan kuat budayanya.

Menanggapi sikap Presiden, Putu Suasta, seorang tokoh masyarakat Bali, menyampaikan “…eksistensi Bali sebagai etalase Indonesia dan favorit penyelenggaraan event nasional dan internasional, hanya akan langgeng bila pembangunan teguh bertumpu pada Tri Hita Karana.”

Menurutnya, pembangunan fisik dan infrastruktur harus mengacu pada kelestarian alam, hutan, dan budaya, serta semangat keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Bali.

“…saatnya di hari kemerdekaan ini, kita semakin memperhatikan dan membantu masyarakat di luar Bali Selatan,” pungkas Putu Suasta.

[Valentino]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *