CIREBON, KINERJAEKSELEN.co — Bagi sebagian orang, budaya mungkin hanya dipandang sebagai warisan masa lalu. Namun bagi Ahmad Thantowiy Shilmiy, budaya adalah sesuatu yang harus terus dihidupkan, dipelajari, dipertunjukkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Lahir di Banten, Ahmad Thantowiy kemudian memilih Cirebon sebagai tempat tinggal sekaligus ruang panjang pengabdiannya. Bertahun-tahun hidup dan beraktivitas di Kota Cirebon membuat dirinya semakin dekat dengan berbagai tradisi, kesenian dan lingkungan budaya yang menjadi identitas daerah tersebut.
Di kalangan masyarakat, sosok Ahmad Thantowiy lebih dikenal dengan sapaan “Papi Tanto”. Ia juga memiliki julukan unik, yakni “Raja Sawer”.
Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Ahmad Thantowiy dikenal kerap melakukan tawurji, sebuah tradisi di Cirebon berupa membagikan uang atau sawer kepada masyarakat dalam momentum atau acara tertentu.
Bagi Papi Tanto, tradisi tersebut bukan sekadar membagikan uang. Di dalamnya terdapat interaksi sosial dan bagian dari tradisi masyarakat yang selama ini hidup dalam kebudayaan Cirebon.
Dekat dengan Keraton dan Lingkungan Budaya Cirebon
Perjalanan Ahmad Thantowiy dalam dunia budaya juga tidak terlepas dari hubungan baiknya dengan lingkungan keraton di Cirebon.
Ia memiliki relasi yang baik dengan sejumlah keraton, termasuk Keraton Kasepuhan dan Keraton Kacirebonan. Kedekatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam mengenal sekaligus ikut mengambil peran dalam berbagai aktivitas kebudayaan Cirebon.
Baginya, kebudayaan tidak cukup hanya dibicarakan. Harus ada tindakan nyata agar kesenian dan tradisi tetap dikenal serta memiliki ruang di tengah perubahan zaman.
Semangat itulah yang kemudian diwujudkannya melalui berbagai aktivitas pelestarian seni dan budaya.
Menghidupkan Sanggar Pepunden Ati Sukma Ning Jati
Salah satu bentuk nyata pengabdian Ahmad Thantowiy adalah melalui Sanggar Pepunden Ati Sukma Ning Jati.
Sanggar tersebut menjadi salah satu ruang untuk mengajarkan sekaligus menggelar berbagai kesenian tradisional. Di antaranya macapat, seni tari tradisional, seni pencak silat dan berbagai bentuk kesenian lainnya.
Melalui sanggar, kesenian tidak hanya dipertontonkan ketika ada acara tertentu, tetapi juga dikenalkan dan dipelajari oleh mereka yang ingin memahami budaya secara langsung.
Macapat, tari tradisional dan pencak silat memiliki karakter serta nilai yang berbeda. Namun semuanya memiliki satu kesamaan: menjadi bagian dari kekayaan budaya yang perlu dijaga keberlangsungannya.
Di tengah perkembangan zaman dan semakin kuatnya budaya populer, keberadaan sanggar menjadi penting sebagai ruang untuk mempertemukan generasi muda dengan akar kebudayaannya.
Dari Pelestari Pencak Silat hingga Ketua PPSI Kota Cirebon
Kecintaan Ahmad Thantowiy terhadap seni tradisional juga terlihat dari keterlibatannya dalam dunia pencak silat.
Atas kiprahnya tersebut, ia dipercaya menjadi Ketua Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI) DPD Kota Cirebon.
Posisi tersebut semakin memperkuat perannya dalam upaya menjaga keberadaan pencak silat sebagai salah satu warisan seni dan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Pencak silat sendiri tidak hanya berbicara mengenai kemampuan bela diri. Di dalamnya terdapat nilai kedisiplinan, ketekunan, keberanian, etika, penghormatan dan pembentukan karakter.
Karena itu, menjaga pencak silat tetap hidup berarti pula menjaga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Ahmad Thantowiy juga dikenal aktif hadir dalam berbagai kegiatan seni dan budaya di Kota Cirebon. Ia tidak hanya berada di belakang kegiatan, tetapi kerap tampil dan terlibat langsung dalam berbagai momentum kebudayaan.
“Raja Sawer” dan Tradisi Tawurji
Satu hal yang membuat sosok Papi Tanto memiliki karakter tersendiri di tengah masyarakat Cirebon adalah kebiasaannya melakukan tawurji.
Tradisi membagikan uang atau sawer dalam acara tertentu membuat Ahmad Thantowiy kemudian dikenal dengan sebutan “Raja Sawer”.
Julukan itu justru memperlihatkan sisi lain dirinya sebagai tokoh yang berusaha hadir dalam kehidupan sosial masyarakat.
Di tengah masyarakat Cirebon yang memiliki tradisi dan ekspresi budaya yang beragam, tawurji menjadi salah satu bentuk interaksi yang memiliki nilai sosial tersendiri.
Bagi Ahmad Thantowiy, keterlibatan dalam tradisi semacam itu menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan antara budaya dan masyarakat yang menjadi pemiliknya.
Penghargaan di Hotel Santika Depok
Perjalanan panjang tersebut akhirnya mendapat apresiasi melalui Kinerjaekselen Award II 2026.
Ahmad Thantowiy Shilmiy menerima penghargaan dengan kategori “Tokoh Penggerak dan Pemelihara Budaya”.
Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasi, komitmen dan kontribusi nyata dalam menggerakkan, memelihara serta melestarikan kekayaan budaya bangsa Indonesia.
Prosesi penghargaan berlangsung pada 31 Juli 2026 di Hotel Santika Depok. Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh dari berbagai kalangan yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia.
Tidak hanya tokoh dari berbagai daerah di Tanah Air, kegiatan tersebut juga dihadiri tokoh dari luar negeri, termasuk dari Sarawak, Malaysia.
Kehadiran para tokoh dari berbagai wilayah tersebut memberikan warna tersendiri dalam acara penghargaan yang mengangkat berbagai figur inspiratif dengan kiprah di bidang masing-masing.
Di tengah forum tersebut, Ahmad Thantowiy menjadi salah satu tokoh yang mendapat apresiasi karena konsistensinya dalam bidang kebudayaan.
Bukan Sekadar Penghargaan
Bagi Ahmad Thantowiy Shilmiy, penghargaan tersebut dapat dipandang sebagai apresiasi atas perjalanan yang telah dilaluinya selama ini.
Namun jauh sebelum sebuah penghargaan diberikan, sudah ada proses panjang yang dijalani: berinteraksi dengan lingkungan budaya, membangun relasi dengan berbagai pihak, menghidupkan sanggar, mengajarkan kesenian, terlibat dalam pencak silat, hadir dalam berbagai pagelaran seni, hingga ikut menjaga tradisi yang hidup di tengah masyarakat.
Dari Banten, ia kemudian tumbuh dan mengabdi di Cirebon.
Di kota yang memiliki sejarah panjang dan kekayaan budaya tersebut, Papi Tanto memilih mengambil bagian sebagai salah satu penggerak yang ikut menjaga agar tradisi tidak kehilangan tempatnya.
Sanggar Pepunden Ati Sukma Ning Jati, pencak silat, macapat, tari tradisional, tawurji, hingga keterlibatannya dalam berbagai kegiatan seni dan budaya menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Pada akhirnya, penghargaan “Tokoh Penggerak dan Pemelihara Budaya” bukan hanya tentang sebuah nama yang tertulis di atas sertifikat.
Lebih jauh, penghargaan itu menjadi pengingat bahwa kebudayaan hanya akan tetap hidup ketika ada orang-orang yang bersedia merawat, mengajarkan dan menjalankannya secara nyata di tengah masyarakat.
Dan Ahmad Thantowiy Shilmiy, atau yang akrab disapa Papi Tanto, memilih untuk berada di barisan itu.
( Raden Kemal )












