Refleksi Akhir 2025: Kefaqiran Sebagai Kejujuran Eksistensial

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Mengakhiri tahun 2025, mari merenung sejenak untuk melihat ke dalam diri dengan lebih jujur, bukan untuk menilai benar atau salah, tetapi untuk menyadari bagaimana mekanisme batin sebenarnya bekerja. Salah satu kesadaran penting adalah terbukanya ilusi tentang “mengendalikan realitas”.

Banyak orang hidup dengan keyakinan tidak sadar bahwa jika keinginan dipikirkan terus, direncanakan secara detail, dan ditegangkan dengan usaha mental (terlalu keras untuk mengontrol, memastikan, atau mengamankan hasil), maka hidup akan menjadi aman dan terkendali. Namun ketika kesadaran ini terbuka, terlihat jelas bahwa keinginan yang ditegangkan justru mengaktifkan apa yang dalam SAT (Self Awareness Transformation) disebut sebagai modus prediksi.

Dalam modus ini, pikiran sibuk menebak-nebak masa depan, mengantisipasi kemungkinan buruk, dan mengunci perhatian pada satu skenario tertentu. Akibatnya, medan kemungkinan hidup justru menyempit, karena batin tidak lagi terbuka pada alternatif yang lebih luas dan seringkali lebih baik.

Dalam konteks ini, upaya spiritual pun bisa keliru arah. Ketika doa, ikhtiar, atau praktik spiritual berangkat dari kecemasan – misalnya takut miskin, takut gagal, atau takut ditinggalkan – yang muncul bukanlah tawakkal, melainkan resignasi protektif. Resignasi protektif adalah sikap “pasrah” semu: secara lahiriah tampak menerima, tetapi batin sebenarnya sedang menutup diri sebagai mekanisme bertahan. Contohnya, seseorang berkata, “Ya sudah, saya pasrah,” padahal di dalam dirinya ada ketegangan, kekecewaan, dan rasa terancam yang belum selesai. Ini berbeda dengan tawakkal yang lahir dari kepercayaan dan kelapangan batin.

Akar dari semua ini adalah cara kerja ego dan ilusi kendali. Ego beroperasi dengan logika sederhana: “Jika aku cukup memikirkan semuanya, merencanakan segala kemungkinan, dan memaksa hasil sesuai keinginanku, maka aku akan aman.” Logika ini tampak masuk akal, tetapi bertabrakan dengan realitas dasar kehidupan.

Masa depan tidak pernah bisa dipastikan sepenuhnya, orang lain tidak bisa dikendalikan sesuai kehendak kita, dan kejadian tak terduga selalu menjadi bagian dari hidup. Ketegangan batin muncul bukan karena realitas itu sendiri terlalu keras, melainkan karena ego menuntut sesuatu yang secara struktural memang tidak mungkin. Seperti seseorang yang terus mengepalkan tangan untuk menahan air agar tidak tumpah – bukan airnya yang salah, tetapi tuntutan tangannya yang keliru.

Dalam refleksi SAT, penting disadari bahwa yang seringkali “tertutup” bukanlah pintu rezeki, peluang, atau kebaikan hidup, melainkan ketersediaan batin untuk menerima. Batin yang terus menegang karena ingin mengontrol hasil menjadi sempit dan defensif. Sebaliknya, ketika ketegangan dilepaskan, batin menjadi lebih responsif dan adaptif terhadap apa yang benar-benar hadir.

Banyak ketegangan batin manusia modern dapat ditelusuri pada upaya manusia untuk melakukan hal-hal berikut: mengendalikan hasil akhir secara mutlak, memastikan masa depan sepenuhnya aman, memaksa realitas berjalan sesuai skenario ego, dan menghapus ketidakpastian dari hidup. Masalahnya, sistem psikis manusia memang tidak dirancang untuk tugas-tugas tersebut.

Secara psikologis, otak manusia berevolusi untuk merespons dan beradaptasi terhadap perubahan, bukan untuk mengendalikan segala variabel kehidupan. Ketika seseorang mencoba mengontrol sesuatu yang berada di luar jangkauannya, sistem saraf masuk ke mode tegang berkepanjangan. Dari sinilah muncul kecemasan, overthinking, stres kronis, dan kelelahan mental.

Penting digarisbawahi bahwa kondisi ini bukan tanda kelemahan pribadi. Ini adalah konsekuensi wajar ketika seseorang tanpa sadar memikul tugas yang mustahil bagi sistem batinnya. Seperti mesin yang dipaksa bekerja di luar spesifikasi, kelelahan bukan karena mesinnya buruk, tetapi karena tuntutan yang tidak sesuai dengan desainnya. Kesadaran inilah yang menjadi pintu awal untuk hidup dengan lebih hadir, lebih lapang, dan lebih selaras dengan cara kerja batin manusia.

Kefaqiran sebagai kejujuran eksistensial dapat dipahami sebagai kesadaran jujur dan mendalam bahwa manusia, pada hakikatnya, tidak memiliki daya, kendali, maupun keberadaan yang berdiri sendiri, melainkan senantiasa bergantung pada realitas yang lebih besar darinya.  Dalam pengertian ini, kefaqiran (al-faqr) tidak identik dengan kemiskinan materi, kelemahan hidup, atau ketidakmampuan untuk berusaha. Kefaqiran justru menunjuk pada suatu sikap batin yang sangat mendasar: kejujuran terdalam manusia tentang posisinya di dalam realitas. Ia bukan tentang apa yang tidak dimiliki secara ekonomi, melainkan tentang kesadaran yang jernih mengenai batas peran manusia dalam kehidupan.

Yang dimaksud dengan kejujuran eksistensial adalah keberanian untuk mengakui secara apa adanya mana wilayah yang memang menjadi tanggung jawab manusia, dan mana yang sejak awal bukan miliknya. Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri, tidak sepenuhnya mengontrol napas yang keluar-masuk setiap detik, tidak dapat memastikan hasil akhir dari setiap usaha, dan tidak pernah benar-benar mengetahui masa depan secara pasti. Namun dalam keseharian, manusia sering hidup seolah-olah semua itu bisa dikendalikan. Kefaqiran, dalam makna ini, adalah berhenti berpura-pura menjadi pusat kendali realitas dan berhenti mengklaim kuasa yang memang tidak dimiliki.

Karena itu, kefaqiran bukan berarti “tidak punya”, melainkan “tidak memiliki secara mutlak”. Ada wilayah yang jelas-jelas menjadi bagian manusia: bekerja, berusaha, merencanakan, dan berniat dengan sungguh-sungguh. Semua itu adalah tindakan aktif dan sadar. Namun apakah hasilnya selalu sesuai rencana, apakah usaha diterima, apakah waktu dan kondisi mendukung – semua ini berada di luar kendali mutlak manusia. Kefaqiran berarti hadirnya kalimat batin yang jujur: “Aku melakukan bagianku sepenuh kemampuan, dan aku sadar bahwa sisanya bukan milikku.” Sikap ini bukan pasrah yang pasif atau menyerah, melainkan pasrah yang matang, sadar, dan bertanggung jawab.

Kefaqiran disebut sebagai kejujuran karena ia berlawanan langsung dengan klaim-klaim palsu yang sering dibuat ego. Klaim bahwa seseorang harus selalu berhasil, bahwa masa depan harus sepenuhnya aman, atau bahwa realitas wajib mengikuti kehendak pribadi. Klaim-klaim ini tidak selaras dengan struktur realitas, tetapi sering diterima begitu saja sebagai kebenaran batin. Kefaqiran adalah pelepasan klaim palsu tersebut dan kembalinya manusia pada cara realitas memang bekerja: ada usaha, tetapi tidak ada kendali absolut.

Dampak batin dari kefaqiran sangat nyata. Ketika kita jujur secara eksistensial, beban batin yang tidak perlu mulai terlepas. Ketegangan menurun karena tidak lagi memikul tanggung jawab yang mustahil. Napas terasa lebih longgar, dan hati menjadi lebih tenang. Bukan karena hidup tiba-tiba menjadi mudah atau tanpa tantangan, melainkan karena tidak lagi ada perlawanan batin terhadap kenyataan. Dalam keadaan ini, kita tidak kehilangan daya hidup – justru kita menemukan kembali keseimbangan antara usaha, kepercayaan, dan kelapangan batin.

@pakarpemberdayaandiri

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *