Oleh: Syahril Syam *)
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mudah memahami bahwa tubuh yang kita miliki saat ini bukanlah hasil dari satu hari, satu minggu, atau satu kejadian. Tubuh hari ini merupakan hasil akumulasi dari ribuan pilihan yang terus berulang selama bertahun-tahun. Apa yang kita makan, seberapa sering kita bergerak, bagaimana pola tidur kita, tingkat stres yang kita alami, serta lingkungan tempat kita hidup, semuanya secara perlahan membentuk kondisi tubuh yang kita rasakan sekarang.
Tidak ada seseorang yang bangun pagi lalu tiba-tiba menjadi atlet hanya karena berolahraga sekali. Sebaliknya, tidak ada pula yang mendadak mengalami obesitas hanya karena satu kali makan berlebihan. Perubahan fisik terjadi melalui proses akumulasi yang berlangsung terus-menerus. Tubuh dibentuk oleh apa yang berulang kali kita lakukan.
Prinsip yang sama sesungguhnya juga berlaku pada jiwa. Jika tubuh dibentuk oleh makanan dan aktivitas yang berulang, maka jiwa dibentuk oleh pikiran, emosi, niat, pilihan, dan tindakan yang berulang. Jiwa yang kita miliki hari ini bukanlah hasil dari satu peristiwa, melainkan hasil dari ribuan respons yang telah kita berikan terhadap kehidupan selama bertahun-tahun. Cara kita berpikir, cara kita memaknai pengalaman, cara kita merespons orang lain, dan kebiasaan emosional yang kita pelihara sedikit demi sedikit membentuk kualitas batin kita.
Karena itu, sebagaimana satu kali olahraga tidak langsung membentuk otot yang kuat, satu kali bersabar juga tidak langsung membentuk karakter yang sabar. Sebagaimana satu kali makan berlebihan tidak langsung menyebabkan obesitas, satu kali marah juga tidak langsung menjadikan seseorang berkarakter pemarah. Yang membentuk bukanlah satu tindakan tunggal, melainkan pola yang berulang. Pengulangan adalah hukum dasar pembentukan, baik pada tubuh maupun pada jiwa.
Dalam ilmu biologi, tubuh memiliki kemampuan beradaptasi terhadap apa yang sering dialaminya. Ketika seseorang secara konsisten berlatih, tubuh merespons dengan membangun jaringan otot yang lebih kuat. Ketika seseorang terus-menerus mengonsumsi energi berlebih tanpa aktivitas yang memadai, tubuh beradaptasi dengan menyimpan cadangan energi dalam bentuk lemak. Ketika seseorang hidup dalam stres kronis, berbagai sistem fisiologis di dalam tubuh ikut berubah. Dengan kata lain, tubuh selalu menyesuaikan dirinya terhadap pola yang berulang.
Jiwa juga memiliki mekanisme yang serupa. Jika seseorang berulang kali melatih kesadaran, refleksi diri, kejujuran, syukur, dan kasih sayang, maka jiwanya perlahan berkembang menjadi lebih jernih dan bijaksana. Sebaliknya, jika seseorang terus-menerus memelihara kebencian, iri hati, keserakahan, kemarahan, atau kesombongan, maka kualitas batinnya juga akan berubah mengikuti pola tersebut. Sama seperti tubuh yang beradaptasi secara biologis, jiwa beradaptasi secara psikologis, moral, dan spiritual terhadap apa yang terus-menerus dipraktikkannya.
Dalam perspektif SAT (Self Awareness Transformation), tubuh dapat dikatakan memiliki memori biologis, sedangkan jiwa memiliki memori eksistensial. Tubuh “mengingat” apa yang berulang dilakukan melalui perubahan jaringan, hormon, saraf, dan metabolisme. Jiwa “mengingat” melalui pembentukan karakter, kecenderungan, cara pandang, dan kualitas kesadaran. Apa yang sering kita pikirkan, rasakan, dan lakukan tidak menghilang begitu saja. Semuanya meninggalkan jejak yang perlahan membentuk siapa diri kita.
Karena itu, perubahan jiwa tidak hanya berarti perubahan perasaan sesaat. Setiap tindakan sebenarnya ikut mengubah cara keberadaan jiwa itu sendiri. Ketika seseorang membiasakan diri bersyukur, yang terjadi bukan hanya munculnya perasaan lebih nyaman atau lebih bahagia. Kebiasaan syukur secara perlahan membentuk struktur batin yang berbeda, yaitu jiwa yang lebih lapang, lebih tenang, dan lebih mampu melihat kebaikan dalam kehidupan.
Sebaliknya, ketika seseorang terus-menerus memelihara dengki, yang terbentuk bukan sekadar emosi negatif sementara. Dengki yang berulang akan membentuk struktur batin yang lebih sempit, lebih gelisah, dan lebih mudah terjebak dalam perbandingan dengan orang lain. Sama seperti latihan fisik yang mengubah struktur tubuh, kebiasaan batin mengubah struktur jiwa.
Kita semua memahami bahwa tubuh tidak pernah benar-benar diam. Bahkan ketika tidak dilatih, tubuh tetap mengalami perubahan. Jika otot tidak digunakan, kekuatannya akan berkurang. Jika pola hidup tidak terkelola, lemak cenderung bertambah. Dengan kata lain, tidak melatih tubuh juga merupakan sebuah proses pembentukan tubuh. Hal yang sama berlaku pada jiwa. Jiwa tidak pernah berada dalam keadaan netral. Jika tidak dilatih dengan kesadaran, refleksi, kebijaksanaan, dan pengendalian diri, maka jiwa akan dengan mudah mengikuti dorongan-dorongan yang lebih rendah seperti ketakutan, kemarahan, keserakahan, kecemasan, atau kesombongan. Tidak mengelola jiwa juga merupakan bentuk pembentukan jiwa.
Karena itu, dalam kerangka SAT, kita dapat melihat adanya dua proses yang berjalan secara paralel setiap hari. Pada tubuh, latihan yang konsisten membangun otot, sedangkan kebiasaan yang tidak terkelola menumpuk lemak. Pada jiwa, latihan kesadaran membangun kejernihan, sedangkan emosi dan nafsu yang tidak terkelola menumpuk kekeruhan. Otot membuat tubuh menjadi lebih kuat, lebih lentur, dan lebih mampu menghadapi tuntutan kehidupan. Kejernihan membuat jiwa menjadi lebih sadar, lebih tenang, dan lebih bijaksana dalam mengambil keputusan. Sebaliknya, lemak yang berlebihan dapat membebani tubuh, sementara kekeruhan batin dapat membebani cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak.
Dengan demikian, disadari ataupun tidak, setiap hari kita sedang membentuk dua realitas sekaligus. Pada tingkat fisik, kita sedang membangun otot atau menumpuk lemak. Pada tingkat batin, kita sedang membangun kejernihan atau menumpuk kekeruhan. Tidak ada hari yang benar-benar netral. Setiap pikiran, setiap emosi, setiap pilihan, dan setiap tindakan menjadi bagian dari proses pembentukan diri.
Sebagaimana tubuh yang kuat lahir dari latihan yang konsisten, jiwa yang jernih juga lahir dari latihan kesadaran yang terus-menerus. Dan sebagaimana tubuh dapat melemah karena kebiasaan yang tidak sehat, jiwa pun dapat menjadi berat dan keruh karena pola batin yang tidak dikelola. Pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang apa yang kita lakukan sesekali, melainkan tentang apa yang terus-menerus kita ulangi. Karena pengulanganlah yang membentuk tubuh, dan pengulangan pula yang membentuk jiwa.
@pakarpemberdayaandiri





